15 Januari 2014 - 20:30
Asas Persatuan adalah Mengenal Musuh Bersama

Mengenal musuh bersama sangat penting dalam merumuskan sikap untuk terus menjaga persatuan ummat.

 

Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam wa Muslimin Muhammadi Ghulpaghani pada hari selasa [13/1] dalam pembukaan seminar yang bertemakan “Pewaris Cahaya” khusus Rohaniawan Sunni-Syiah di Ghalestan Iran mengatakan, “Kondisi kekinian sangat memprihatinkan, antar sesama muslim dan sesama ummat beragama saling bermusuhan dan memendam rasa nifak satu sama lain. Lebih disayangkan lagi, seruan untuk saling membunuh tersebut lahir dari ulama dan kaum cerdik pandai yang mengklaim diri sebagai pengikut Nabi Saw dan ahli Al-Qur’an juga menyebut mereka sebagai ahli agama dan ahli kitab.”

 

Menyinggung kehadiran pejabat tinggi AS pada acara pemakaman Ariel Sharon, ulama Iran tersebut mengatakan, “Barang siapa yang mengklaim diri sebagai pejuang kemanusiaan dan pembela hak-hak manusia harus bisa membuktikan dan menunjukkan aksi-aksi yang nyata. Apa kita bisa menerima klaim mereka kalau ternyata mereka menunjukkan pujian dan pengagungan pada tokoh kerusakan dan kezaliman?. AS yang menyebut agresi militernya untuk membebaskan rakyat Afghanistan dari penguasaan Taliban dan menjajikan kemerdekaan dan kedaulatan itu justru menyeret Afghanistan ke arah yang lebih buruk. Mereka menerapkan sistem kapitalisme di Afghanistan, mengambil seluruh kebijakan dan mengontrol sepenuhnya pemerintahan. Bahkan menerapkan hokum rimba di Negara tersebut.”

 

Ghulpaghani menambahkan, “Mereka bukanlah sahabat bagi kaum muslimin. Kaum muslimin harus waspada kedatangan mereka dengan menawarkan persahabatan dan perdamaian hanyalah tipu muslihat belaka.”

 

“Negera kita pun [Iran] tidak luput dari fitnah dan konspirasi mereka. Dari dalam maupun luar mereka terus berusaha menyulut api perpecahan dan konflik, namun berkat sistem pemerintahan Islam di Negara ini dan dengan keberkahan Wilayatul Faqih kita tetap mampu menjaga keamanan, tetap mampu menjaga kestabilan dan ketenangan secara menyeluruh di Negara ini.”

 

Pada bagian lain sambutannya, Hujjatul Islam Ghulpaghani menyatakan, “Jika pada fitnah yang terjadi pada tahun 1388 HS rakyat tidak sedang berada pada kondisi penuh kesadaran dan kewaspadaan dan tidak pada ketaatan pada Wali Faqih, kita tidak tahu musibah apa yang akan menimpa Negara ini. Karena itu hari ini, kewajiban segenap ruhaniawan untuk tetap menjaga kondisi masyarakat agar tetap waspada pada semua ancaman dan bahaya yang mengintai.”

 

“Kecintaan dan kesetiaan rakyat pada Pemimpin Revolusi Islam harus terus dipupuk dan ditingkatkan seiring dengan aktivitas musuh yang semakin menggila dan menguat untuk menghancurkan dan merusak sistem pemerintahan Islami ini. Para ruhaniawan harus berperan sebagai penyambung penyampaian Rahbar ke telinga masyarakat. Tidak ada malam dan siang bagi Rahbar kecuali memikirkan mereka yang membutuhkan dan masih berada pada kondisi yang memprihatinkan. Karenanya dengan adanya Wali Faqih yang telah kita rasakan manfaatnya, kita harus mensyukuri nikmat dan anugerah Ilahi ini”

 

“Dengan adanya Wali Faqih, kita bisa tetap menjaga semangat kebersamaan dan persatuan kaum muslimin di Negara ini. Kepatuhan kepada Wali Faqih membuat kita tetap terjaga akan adanya musuh bersama yang dengan itu kita tidak mudah tertipun dan terpedaya. Mengenal musuh bersama sangat penting dalam merumuskan sikap untuk terus menjaga persatuan ummat.”

 

Pertemuan ulama-ulama Sunni-Syiah yang terselenggara di provinsi Ghalestan Iran tersebut merupakan rangkaian agenda tahunan untuk menyemarakkan Pekan Persatuan ummat Islam yang berlangsung setiap tanggal 12-17 Rabiul Awal setiap tahunnya.